manusia

Manusia.

Jika kita mencari apa itu definisi manusia, dan merujuk pada beberapa literatur maupun tulisan yang di tulis oleh para ahli, maka kita akan menemukan definisi yang berbeda-beda sesuai dengan siapa yang mendefinisikannya. Setiap ahli tentu memiliki pendapat sendiri-sendiri tentang apa itu manusia. Namun meskipun bukan seorang ahli, saya akan mencoba mendefinisikan arti dari manusia sesuai dengan pengetahuan dan cara pikir yang saya miliki, lalu saya akan mengaitkannya dengan kehidupan nyata. Kehidupan seorang manusia yang paling mudah saya amati tentulah kehidupan saya sendiri.

Menurut saya, manusia adalah makhluk yang paling kompleks baik dari segi  jasad maupun non jasad. Karna di sini kita akan membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan ilmu sosial ataupun soft skill, marilah kita bahas apa yang saya maksudkan dengan manusia adalah makhluk yang paling kompleks dari segi non jasad, dan seperti yang telah saya katakan sebelumnya, saya akan mengaitkannya dengan kehidupan nyata, yaitu diri saya sendiri.

Manusia adalah makhluk yang paling kompleks dari segi non jasad, ruhaniah, maupun pemikiran. Hal ini jelas sangat terlihat bila kita membandingkannya dengan makhluk lain yang ada di bumi. Manusia memiliki akal dan pikiran, perasaan, dan juga insting. Tidak seperti binatang yang hanya memiliki insting semata. Dengan akal dan pikiran manusia mampu berkembang hingga mencapai zaman komputerisasi seperti sekarang ini. Dengan perasaan manusia bisa memiliki rasa saling  melindungi dan menjaga satu sama lain. Dan dengan insting manusia bisa melakukan hal-hal lainnya yang tidak bisa di pecahkan hanya dengan akal dan perasaan.

Saya akan mengaitkan ketiga aspek yang terkandung dalam segi non jasad, dalam kehidupan saya, lebih tepatnya dalam riwayat pendidikan saya. Bagaimana pikiran, perasaan, dan juga insting dapat mempengaruhi kehidupan seorang manusia, termasuk riwayat pendidikan. Saya akan mencoba membahasnya di sini, tentu dengan batasan pengetahuan yang baru saya miliki.

Awalnya saya bersekolah di sebuah TK di daerah Bekasi, di sini saya adalah murid yang biasa-biasa saja tanpa ada yang istimewa, namun juga tidak ada kendala yang saya alami dalam belajar. Wajar saja, mungkin seorang anak kecil seperti saya waktu itu belum mempunyai banyak pikiran, sehingga tidak peduli dengan apa yang akan saya dapatkan kedepannya. Pada tahapan ini pikiran saya belum berkembang, namun itulah bedanya manusia dengan binatang, pikiran saya yang awalnya hanyalah sebatas bermain, seiring berjalannya waktu akan berkembang sebagaimana manusia pada umumnya.

Setelah itu saya bersekolah di sebuah SD Negri di Bekasi. Di sana saya mulai berfikir untuk maju, saya mulai rajin belajar untuk mendapatkan nilai, di sini akal dan fikiran saya bekerja agar saya bisa mendapatkan rengking saat pembagian raport. Dan sebagai seorang manusia, selain pikiran saya juga punya perasaan. Setiap kali saya mendapatkan pencapaian yang memuaskan dalam pembelajaran, saya selalu mendapatkan perhatian dari orang tua. Jadi kini perasaan saya sebagai seorang manusia yang berperan. Saat mendapatkan perhatian saya akan merasa senang dan bahagia, tentunya hal tersebut akan berdampak baik bagi proses belajar saya. Dan insting saya juga berperan, insting saya mengatakan kalau saya mendapatkan hasil yang buruk maka orang tua saya tidak akan senang karenanya.

Selama belajar di SD, saya mendapatkan hasil yang bisa di bilang memuaskan, meski mungkin tidak terlalu membanggakan. Namun pikiran, perasaan, dan insting juga bisa membuat proses belajar menjadi kacau balau. Kembali lagi pada kehidupan nyata, yaitu diri saya sendiri.

Setelah tamat SD, saya melanjutkan sekolah ke sebuah Pondok Pesantren di daerah Bekasi. Sesuatu yang sangat bertentangan dengan  kemauan saya. Saya bersekolah di sana  mengikuti perintah orang tua saya. Di sana pikiran saya kacau, perasaan saya berontak, dan insting saya selalu mengatakan kalau ini bukanlah tempat yang cocok. Peringkat saya mulai menurun, bahkan hingga berada di posisi yang benar-benar memalukan bila mengingat peringkat saya sebelumnya di SD. Saya sengaja membuat-buat kasus agar di keluarkan, dan pelajaran saya tidak ada yang beres.

Akhirnya setelah enam tahun saya lulus juga dari Pesantren. Sebagai seorang manusia, orang tua saya juga memiliki pikiran, perasaan, dan insting. Tadinya mereka ingin menyekolahkan saya di sekolah yang lagi-lagi berbasis Islam, namun tampaknya mereka berpikir kalau itu tidak akan baik untuk saya. Mereka juga masih punya perasaan sebagai seorang manusia. Dan insting mereka juga tampaknya mendukung pikiran dan perasaannya. Akhirnya saat ini saya melanjutkan pendidikan di Universitas Gunadarma yang bertempat di bekasi. Saya kini menempati  kelas 1IA21, fakultas Tekhnologi Industri, jurusan Tehnik Informatika, dengan NPM 50410935. Kuliah di sini adalah pilihan saya, semoga akan membawa hasil yang baik kedepannya.

Jadi kesimpulannya, manusia sebagai makhluk yang paling kompleks dari segi non jasad, tentulah memiliki pikiran, perasaan, dan juga insting. Dan ketiga hal tersebut akan sangat mempengaruhi kehidupan seorang manusia. Mungkin masih sangat banyak kekurangan dan kesalahan dalam tulisan saya, ini di sebabkan oleh kurangnya ilmu yang saya miliki. Namun manusia selain memiliki perasaan dan insting, ia juga adalah makhluk yang memiliki otak sebagai sarana berpikir. Jika pembaca mau memberikan masukan, tentu saya akan berpikir bagaimana membuat tulisan yang lebih bagus dan bermutu dari tulisan saya ini, sebab saya manusia!

By; Ansari Milah Ibrahim.

SHARE

Ansari Milah Ibrahim

Hi. I’m Designer of Ansorpunya.blogspot.com. I’m graduate from Khairul Bariyyah Islamic Boarding School and Gunadarma University, Java Programmer, Pro Evolution Soccer Player, Dreamer, IELTS score Hunter, Scholarship Hunter, Writer and I am not sure who I’m actually. Just inspired to make things looks better and better.

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :